54 Persen Penderita Lupus Alami Gangguan Psikiatrik (Republika)
22 Juni 2010
OBAT MURAH BAGI ODAPUS : Seorang pengunjung membubuhkan tanda tangan petisi Obat Murah Bagi Orang dengan Lupus (Odapus) di sela acara World Lupus Day 2006 di Aula Barat ITB, Sabtu (20/5). Petisi ini kemudian akan di kirimkan kepada Menteri Kesehatan RI . Selama ini odapus harus membeli obat dengan harga cukup tinggi untuk mengurangi gejala yang timbul akibat penyakit lupus yang dideritanya.
BANDUNG - Pasien lupus eritomatosus sistemik (lupus) banyak mengalami gangguan psikiatrik. Berdasarkan penelitian Noelle dkk pada 1985, dari 35 pasien tersebut, sebanyak 54 persennya mengalami gangguan psikiatrik. Diantaranya psikotik, skizofrenia, gangguan mental organik, cemas, depresi, dan kemarahan.
"Penelitian yang dilakukan Saphiro menyatakan insidensi gangguan psikiatrik pada penderita lupus berkisar dari12-17 persen, dan gangguan psikiatrik yang paling umum adalah depresi," ujar Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bandung, dr. Teddy Hidayat, SpKJ, seusai acara World Lupus Day 2006 yang diselenggarakan oleh Yayasan Syamsi Dhuha Bandung, di Aula Barat ITB, Sabtu (20/5).
Teddy mengatakan, memberitahukan pasien terkena lupus memang sulit, tapi hal itu harus dilakukan. Reaksi pasien atau keluarganya setelah diberitahukan akan shock dan terkejut, namun hal itu normal terjadi. Bahkan, keluarga dan dokter harus memberikan kesempatan untuk pengingkaran tadi. Dijelaskan Teddy, pada dasarnya manusia itu makhluk bio, psiko, sosial, dan spiritual. Penyembuhan pada manusia tidak bisa dipisah-pisahkan antara empat kelompok tadi karena semuanya saling keterkaitan. Karena itu, peran keluarga, dokter disekitar pasien harus mendukung.
Teddy yang mengungkapkan, pasien ataupun orang disekitar harus mengetahui yang dimaksudkan dengan lupus sehingga bisa menerima apa adanya. Keuntungan lainnya adalah orang disekelilingnya mengetahui apa yang dibutuhkan pasien ketika mengalami sesuatu. Selain itu, kedokteran yang manusiawi dibutuhkan. Yakni kedokteran yang memperhatikan emosi pasien, memberikan kasih dan perhatian, serta yang lainnya.
Yang terpenting, lanjut Teddy, adalah meningkatkan kualitas hidup. Ia menjelaskan, dalam dua dekade terakhir ini, penilaian dalam kualitas hidup telah menarik perhatian. Pasalnya, kualitas hidup memiliki fokus perhatian tidak hanya kepada aspek kesehatan secara fisik, melainkan tertuju kepada aspek kesejahteraan pasien secara menyeluruh.
Sementara itu, Yayasan Syamsi Dhuha bersama rumah sakit, laboratorium, dan apotik menandatangani nota kesepahaman piagam kepedulian. Hal tersebut sebagai bentuk kepedulian
stakeholders medis terhadap penyakit lupus, penyakit autoimun yang hingga kini belum ada obatnya. Rencananya sekitar 16 rumah sakit / laboratorium / apotik yang akan memberikan bantuannya.
Menurut Ketua Yayasan Syamsi Dhuha, Dian Syarief, komitmen yang diharapkan dari rumah sakit adalah penyebarluasan informasi seputar penyakit lupus. Selain itu, diharapkan adanya kemudahan mengakses dokter pemerhati lupus bagi para odapus. "Untuk laboratorium dan apotik bentuk komitmennya adalah pemberian diskon pada odapus yang tergabung dalam Syamsi Dhuha."
Dian menjelaskan, langkah kepedulian ini akan dimulai Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang mulai Juni 2006 membuka klinik lupus setiap Sabtu pukul 08.00-10.00 WIB. Selain itu odapus, dan pemerhati odapus kini sedang mengumpulkan 1.000 tanda tangan.
Pengumpulan tanda tangan ini, sambung Dian, untuk mendukung upaya memperoleh obat murah bagi para odapus dari pemerintah. Kegiatan ini, imbuh dia, dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa saat ini obat-obatan bagi penyandang lupus masih relatif mahal. Sementara perhatian dari semua kalangan, termasuk medis dan pemerintah, masih sangat kurang.
Sumber: Republika, Senin 22 Mei 2006