
Summary Renungan Ramadhan II
Hari /Tgl : Sabtu, 13 Agustus 2011
Tempat : Masjid Junudurrahman Jl. Aceh 50 Bandung
Fasilitator : Ustadz. Ahmad Humaidi (Ahum)
Topik : MEMAKNAI KEIKHLASAN
Dipagi yang cerah, dihari ke tigabelas di bulan Ramadhan 1432 H, para sahabat SDF kembali berkumpul mengikuti Renungan Ramadhan yang kedua kalinya di Bulan Ramadhan tahun ini, yang diselenggarakan oleh Syamsi Dhuha Foundation (SDF), sebagai program rutin tahunan.
Suasana nampak hening saat lantunan nasyid “ Jangan Menyerah” dikumandangkan oleh grup Nasyid Pelangi, mengawali acara. Dilanjutkan dengan pemaknaan sebuah kisah yang berjudul “ Belajar Ikhlas” dibawakan oleh sahabat odapus Katharina Oginawati, cukup memberikan pencerahan tentang pentingnya ikhlas dalam setiap kali beramal.
Pemaknaan tentang ikhlas dikupas lebih luas oleh ustadz Ahum yang disampaikan secara apik, terkadang unik namun tanpa mengurangi makna dari ikhlas itu sendiri.
Dalam sebuah Hadist Rasulullah saw :
“ Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kamu dan rupa kamu, tetapi Dia melihat keikhlasanmu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Pengertian Ikhlash
Secara etimologi Ikhlas- Bahasa Arab- berasal dari kata khalasha artinya bersih, jernih, murni, tidak bercampur. Berikut beberapa pendapat tentang ikhlas.
· Anas Ismail Abu Dawud : Ikhlas adalah melepaskan diri dari selain Allah, atau membersihkan amal dari penglihatan mahluk-Nya.
· Syekh Sa’id Hawwa : Iklash adalah orang yang tidak ada motivasi yang membangkitkanya kecuali taqorub kepada Allah.
· Syekh Ahmad Faridl : Iklash adalah membersihkan maksud dan motivasi bertaqorub kepada Allah dari berbagai maksud dan niat lain.
Keutamaan Ikhlas
· Salah satu syarat diterimanya amal (QS. Al-Kahfi : 110)
· Ikhlash dapat menghalangi godaan syetan (QS.Al Hijr : 39-40)
· Terpelihara dari kemungkaran (QS. Yusuf : 24)
· Sarana Meraih Surga (QS.Al Insan : 5-10)
Unsur-unsur Ikhlas
· Ikhlashun Niyah : Niyat, yakni kemauan yang kuat, dapat juga berarti tujuan yang disertai pelaksanaanya.
· Itqanul ‘Amal : Niyat yang ikhlas harus disertai amal yang sebaik-baiknya.
· Jaudatul Adaa : Pemanfaatan hasil usaha. Amalan yang kita lakukan senantiasa dapat bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain, lingkungan, bahkan segenap alam, sebagai pengabdian kita pada Allah SWT.
Sarana membentuk Keikhlasan
· Orang yang mukhlis (ikhlas) harus memperhatikan pandangan Khaliq bukan mahluk.
· Lahir dan bathin harus berjalan seiring.
· Menganggap sama pujian dan celaan manusia.
· Tidak memandang diri sebagai orang yang ikhlas.
· Melupakan pahala di akhirat. Sebab orang yang ikhlas tidak akan pernah merasa aman terhadap amalanya, tapi lebih focus pada beramal sebaik-baiknya.
· Menghalangi diri dari riya dan hawa nafsu, sebab, dua faktor inilah yang akan menggugurkan keikhlasan.
Beberapa ayat utama tentang Ikhlas :
QS. Az Zummar : 11-12 , QS. Al Bayinah : 5, QS. An Nisa : 146, QS. Al Mukmin : 65, QS. Al A’raf : 29, QS. Al Hajj : 37 , QS. Ali Imran : 29
Usai materi dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab yang dipandu oleh moderator, berikut rangkumanya :
1. Amal yang bagaimana yang diterima Allah SWT: yaitu amal yang dikerjakan dengan ikhlas, kemauan keras, dan sesuai aturan agama
2. Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang yang mukhlis :
3. Apa perbedaan ridho dan ikhlas: Manusia mengerjakan amalan dengan ikhlas yaitu membersihkan maksud dan motivasi hanya untuk Allah semata, untuk mencari Ridho Allah SWT.
Semoga bermanfaat, Wallohu’alam Bish Shawab.
PERNAK-PERNIK LUPUS
Apakah Lupus?Lupus adalah penyakit peradangan kronis yang dapat mengenai kulit, sendi, ginjal, paru, susunan saraf dan alat tubuh lainnya. Gejala tersering adalah bercak ... readmore